Aubameyang sensasi di LaLiga: ‘Aurameyang’ jadi andalan Deportivo di usia 37
Aubameyang sensasi membuktikan usia bukan penghalang—di Deportivo ia jadi idola di Riazor berkat gol-gol penting dan selebrasi unik 'Aurameyang'.
Aubameyang sensasi langsung terasa sejak kedatangannya di A Coruña: senyum, keterbukaan, dan kemampuan mencetak gol membuatnya cepat dicintai suporter. Di usianya yang 37 tahun, Pierre-Emerick Aubameyang kembali menjadi sorotan LaLiga setelah awal yang memukau bersama Deportivo.

Julukan ‘Aurameyang’ lahir dari permainan kata dan karakter yang melekat pada penyerang asal Gabon itu, yang mendapat sambutan hangat dari penggemar—bahkan klub ikut berseloroh di akun resmi mereka saat pengumuman kedatangan sang pemain.
Aubameyang sensasi: sambutan di Riazor
Kecepatan adaptasi Aubameyang terasa amat cepat; dalam beberapa pekan ia sudah menguasai ruang ganti dan menambatkan hati pendukung. Setelah debut yang diwarnai gol spektakuler melawan Elche—sebuah penyelesaian yang menuntun bola dengan dada lalu mendorongnya ke gawang dengan kaki kiri—Aubameyang tidak perlu banyak penjelasan saat ditanya soal julukan itu. Ia tersenyum, mengapresiasi dukungan, lalu kembali melakukan tugasnya: mencetak gol.
Selebrasi, imej, dan koneksi dengan suporter
Lebih dari sekadar pencetak gol, Aubameyang dikenal karena selebrasi dan kepribadiannya yang mudah dikenang. Sejak momen ikoniknya di Bernabéu ketika membungkam rival dengan dua gol dan satu assist, lalu merayakan seperti tokoh anime Goku, pemain ini selalu menampilkan sisi hiburan yang kuat tanpa mengurangi profesionalisme. Di A Coruña, lelucon dan permainan kata antara ‘aura’ dan namanya berkembang menjadi julukan ‘Aurameyang’, yang kian populer di tribun Riazor.
Pengalaman panjang dan kontribusi nyata
Karier Aubameyang panjang dan beragam: dari akademi Milan, melintasi klub-klub Prancis seperti Dijon, Lille, Monaco, dan Saint-Étienne, hingga menjadi bintang di Borussia Dortmund—dengan catatan 213 pertandingan dan 141 gol—yang kemudian membawanya ke Arsenal, di mana ia mencetak 92 gol dalam 163 penampilan dan bahkan sempat menjadi kapten. Perjalanan itu dilanjutkan dengan periode di Barcelona, Chelsea, Olympique Marseille, dan Al-Qadsiah. Semua pengalaman itu kini dimanfaatkan Deportivo di level tertinggi Spanyol.
Peran kepemimpinan di lapangan dan di ruang ganti
Awal yang gemilang di musim baru
Musim kembali ke Primera untuk Deportivo dimulai penuh ekspektasi, dan Aubameyang langsung menunjukkan mengapa ia direkrut. Selain gol melawan Elche, ia kembali menyumbang gol ketika tim bermain di La Rosaleda melawan Málaga pada menit ke-21, dalam skema yang dimulai dari umpan Luismi Cruz. Kontrol, penyelesaian teknis, dan selebrasi lagi membuatnya semakin menjadi figur sentral bagi klub yang baru kembali ke kasta utama setelah delapan tahun.
Meski demikian, klub dan pemain menyadari tuntutan level tertinggi kompetisi. Hasil imbang dalam beberapa laga awal menunjukkan bahwa kontribusi individu, seberapa pun mengesankan, tetap harus ditopang kinerja tim secara keseluruhan. Namun bagi suporter Deportivo di Riazor, kehadiran Aubameyang sudah memberikan energi berbeda: sosok yang menghadirkan gol sekaligus hiburan.
Di usia 37, julukan ‘Auba’, ‘Goku’, atau ‘Aurameyang’ tampak tak lagi sekadar lelucon. Mereka merefleksikan kombinasi produktivitas yang tetap tajam dan persona publik yang membuatnya begitu mudah diterima di lingkungan baru. Dua pertandingan, dua gol, dan ikatan cepat dengan suporter: itulah bukti terkini bahwa usia bukan satu-satunya ukuran bagi pemain dengan naluri mencetak gol seperti Aubameyang.
